APSSI Malut Kecam Akademi Merah Putih, Pelatih Lokal Jangan Jadi Penonton di Daerah Sendiri
NASIONAL
Maluku Utara – Kehadiran Akademi Merah Putih Malut United yang menggandeng klub Portugal, Benfica, mulai mendapat sorotan dari kalangan insan sepak bola di Maluku Utara. Asosiasi Pelatih Sepak Bola Seluruh Indonesia (APSSI) Provinsi Maluku Utara mengecam minimnya ruang keterlibatan bagi pelatih-pelatih lokal dalam program pembinaan tersebut.
Ketua APSSI Maluku Utara, Rudiyanto Tutuly, mempertanyakan bagaimana mungkin sebuah akademi sepak bola yang dibangun dan beroperasi di Maluku Utara belum memperlihatkan kesempatan yang jelas bagi pelatih daerah untuk terlibat. Padahal, Maluku Utara memiliki banyak pelatih berpengalaman yang selama ini menjadi bagian penting dalam membangun sepak bola dan melahirkan pemain-pemain berkualitas.
Menurut Rudiyanto, kemampuan pelatih lokal tidak seharusnya dipandang sebelah mata. Sejumlah pemain hasil pembinaan di daerah mampu menembus kompetisi nasional, bahkan mendapatkan kesempatan memperkuat Tim Nasional Indonesia. Prestasi tersebut menjadi bukti bahwa Maluku Utara memiliki sumber daya kepelatihan yang layak diperhitungkan.
“Kalau kita melihat rekam jejak sepak bola Maluku Utara, banyak pemain yang lahir dari proses pembinaan pelatih-pelatih lokal. Bahkan, ada yang mampu menembus level nasional hingga memperkuat Timnas Indonesia. Artinya, secara kualitas, pelatih-pelatih kita juga memiliki kemampuan dan sangat layak diberikan kesempatan,” ujar Rudiyanto.
Ia menilai, persoalan ini bukan sekadar tentang siapa yang mengisi posisi pelatih di Akademi Merah Putih, melainkan bagaimana program pembinaan tersebut memberikan dampak terhadap perkembangan sepak bola di daerah tempat akademi itu berdiri.
Rudiyanto menyayangkan belum adanya informasi terbuka mengenai perekrutan tenaga pelatih maupun mekanisme yang dapat diakses oleh pelatih-pelatih lokal. Situasi ini menimbulkan pertanyaan mengenai sejauh mana sumber daya manusia sepak bola Maluku Utara mendapatkan ruang dalam program yang membawa nama besar kerja sama internasional tersebut.
APSSI Maluku Utara tidak pernah mempersoalkan kehadiran Benfica maupun penggunaan standar pembinaan dari luar negeri. Kerja sama itu justru harus dimanfaatkan sebagai kesempatan untuk meningkatkan kualitas sepak bola daerah. Namun, menjadi persoalan apabila kehadiran tenaga ahli dari luar tidak diikuti dengan kesempatan bagi pelatih lokal untuk belajar, terlibat, dan berkembang.
“Jangan sampai kita hanya menjadi tempat berdirinya akademi, anak-anak kita yang menjadi peserta pembinaan, tetapi pelatih-pelatih lokal yang selama ini berjuang membangun sepak bola Maluku Utara justru tidak mendapatkan tempat. Ini yang harus menjadi perhatian serius,” tegasnya.
Menurut Rudiyanto, jika Akademi Merah Putih benar-benar membawa misi pengembangan sepak bola jangka panjang, maka pembangunan sumber daya manusia lokal harus menjadi bagian dari prioritas. Transfer ilmu tidak boleh hanya menjadi konsep dalam kerja sama, tetapi harus diwujudkan melalui keterlibatan langsung pelatih daerah dalam proses latihan, pendampingan, dan pengembangan metodologi pembinaan.
Ia juga mengingatkan bahwa keberadaan pelatih asing memiliki batas waktu penugasan, sementara pembinaan sepak bola di Maluku Utara akan terus berjalan. Karena itu, menyiapkan pelatih lokal sejak awal merupakan kebutuhan penting agar pengetahuan dan standar pembinaan yang dibawa Benfica dapat diteruskan setelah kerja sama berakhir.
APSSI Maluku Utara mendesak manajemen Malut United dan Akademi Merah Putih agar lebih terbuka dalam membangun komunikasi dengan organisasi pelatih di daerah. Kesempatan mengikuti seleksi, keterlibatan dalam struktur kepelatihan, hingga program peningkatan kompetensi harus dibuka secara jelas dan transparan.
Rudiyanto menegaskan, kemajuan sepak bola Maluku Utara tidak boleh hanya diukur dari keberhasilan mendatangkan nama besar klub internasional atau mencetak pemain berbakat. Lebih dari itu, keberhasilan sebuah program pembinaan juga harus dilihat dari kemampuannya membangun dan memberdayakan sumber daya manusia sepak bola di daerah.
“Sepak bola Maluku Utara tidak kekurangan orang-orang yang mau bekerja dan membina pemain. Pelatih lokal sudah membuktikan kontribusinya selama ini. Karena itu, kami berharap jangan sampai pelatih-pelatih daerah hanya menjadi penonton di rumah sendiri. Berikan ruang dan kesempatan agar mereka juga tumbuh bersama Akademi Merah Putih,” tutup Rudiyanto. (Tim)